Apa Itu Penelitian Yang Baik


Tulisan ini adalah pengantar dari Prof. Benjamin white, (institute of social studies, The Hague), pada buku Metodologi Studi Agraria karya Gunawan Wiradi. Pada buku tersebut, tulisan pengantar ini dibuat dalam bahasa Inggris dan saya coba terjemahkan semampu dan seadanya. Berikut lengkapnya. 

APA ITU PENELITIAN YANG BAIK

Perkenalan

Saya pertama kali bertemu dengan Gunawan wiradi pada tahun 1973, Saat dia datang di suatu malam bersama dengan kelompok survey agro-ekonomi Indonesia untuk mengunjungi saya di desa saya Kali Loro (Yogyakarta), dimana saya telah tinggal selama 15 bulan sambil mempelajari kondisi ekonomi rumah tangga para petani kecil dan rumah tangga petani tak bertanah. Kami duduk di rumah kecil saya, kursi kami kdang oleng di atas tanah yang tidak rata, sambil menikmati teh di bawah penerangan lampu ‘aladin’ saya, serta bertukar informasi tentang perubahan yang terjadi dalam ekonomi pedesaan di awal tahun “revolusi hijau” ini, dan pengalaman kami dalam mempelajarinya melalui penelitian lapangan.

Pada waktu itu, tidak ada pandangan bagus  yang tersaji. Baik dalam Bahasa inggris maupun dalam Bahasa Indonesia, dalam metode untuk riset skala kecil ataupun isu agraria,kedua peneliti pada agro ekonomi survey ini, mengembangkan metode dan tekhnik mereka melalui proses ‘trial and error’. Selalu ada godaan (dimana masih banyak kita lihat hari ini dalam proyek tesis para pelajar) secara sederhana  mengulangi tehknik skala kecil ini pada survey penelitian berskala besar, sehingga penelitian berskala kecil ini hanya menjadi survey penelitian yang kerdil.

Metodologi penelitian sering kali merupakan bidang yang kering dan agak membosankan, karena kita dapat melihat banyak buku teks metodologi penelitian yang tampaknya tersesat dalam teknik {dan jargon baru untuk mendeskripsikannya} dan melupakan apa tujuan dari penelitian sosial. Oleh karena itu saya sangat senang Gunawan Wiradi dapat mengumpulkan pengalamannya yang sangat banyak selama lebih dari 40 tahun penelitian tentang isu-isu agraria, dalam buku metodologi penelitian agraria ini.

Seperti yang akan dilihat oleh pembaca buku ini, Gunawan wiradi memiliki kejeniusan yang langka dalam menjelaskan masalah yang kompleks, baik yang lebih praktis maupun yang lebih filosofis, dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, seringkali dengan bantuan anekdot {dongeng} berdasarkan pengalamannya sendiri. Dengan membaca bab ini, orang akan merasakan bahwa aktivitas penelitian yang {bagus} tidak hanya melibatkan penerapan teknik, tetapi juga keahlian yang membutuhkan imajinasi dan 'bakat' {lihat bab penutup}.

Perlu diketahui bahwa fokus utama buku Gunawan wiradi adalah bagaimana memperoleh pemahaman yang dapat diandalkan tentang aspek material struktur agraria, khususnya yang berkaitan dengan penguasaan tanah, kehidupan dan hubungan agraria serta perbandingan aspek-aspek tersebut antara lokasi yang berbeda. Anda tidak akan menemukan banyak hal tentang pendekatan untuk mempelajari isu-isu agraria yang khusus seperti hubungan gender, pelaksanaan kekuasaan lokal [kecuali untuk beberapa halaman dalam bab {VLC], hubungan antara petani dan negara, atau antara petani dan modal perusahaan / agribisnis, gerakan tani pada tanah yang berkonflik, dll. Ini semua adalah isu penting dalam studi agraria, tapi bukan bidang keahlian khusus Gunawan Wiradi, dan dengan bijak dia meninggalkan dimensi-dimensi ini untuk ditulis orang lain. Kebutuhan akan pedoman metodologi tentang isu-isu tersebut merupakan tantangan yang harus direspon oleh generasi peneliti agraria berikutnya.

Pada bab pendahuluan singkat ini, saya tidak akan mencoba merangkum buku Gunawan Wiradi tetapi melengkapinya dengan beberapa refleksi singkat tentang apa itu penelitian yang “baik”. 

APA ITU PENELITIAN YANG BAIK

Pertama kita perlu memahami bahwa ada perbedaan antara penelitian dan kegiatan pengumpulan informasi lainnya, seperti contohnya jurnalistik, evaluasi proyek atau pengumpulan statistik rutin oleh instansi pemerintah. Pengumpulan informasi yang melibatkan tanya jawab tentang "apa?" {dan jika kuantitatif, 'berapa banyak?'): apa yang terjadi, bagaimana hal itu berlangsung, bagaimana situasi atau orang atau bahkan seperti apa itu terlihat. Varietas benih apa yang ditanam di ladang ini? Apakah kemarin hujan? Berapakah harga berasnya? Berapa luas lahan petani ?, berapa populasi desa ini? Berapa KK di desa ini yang tidak memiliki tanah ?, dan sebagainya.

Penelitian berbeda dari "pencarian fakta" karena berkaitan dengan pertanyaan "bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti bahwa sebuah penelitian harus melampaui deskripsi dan membutuhkan analisis. Tujuannya adalah untuk menjelaskan data, bukan hanya menggunakan data untuk mendeskripsikan. Semua model pencarian fakta terkait adalah membuat hal-hal yang rumit dapat dimengerti, tetapi penelitian yang melibatkan penjelasan melakukannya pada tingkat yang berbeda. Ini memerlukan ditemukannya alasan untuk hal-hal, peristiwa dan situasi, menunjukkan bagaimana dan mengapa hal-hal itu menjadi seperti apa adanya. Apa yang mengubah pencarian fakta menjadi penelitian adalah penerapan teori dalam proses penelitian. {Philips & pugh 2005; Pukulan 1998; 15}. Ini menjelaskan misalnya mengapa sejumlah perspektif teoritis yang berbeda dijelaskan dan dibahas dalam bab IV buku ini.

PENELITIAN YANG BAIK

Riset yang baik didasarkan pada sistem terbuka: tidak secara membabi buta bertujuan untuk "membuktikan" {atau menyangkal sesuatu, tetapi terbuka terhadap informasi dan kesimpulan yang bahkan tidak kita harapkan}. Riset yang baik mengkaji semua jenis data “secara kritis” yang artinya, sederhana; melakukan penilaian atas keandalan, validitas, dan relevansinya. Riset yang baik tergeneralisasikan (artinya bahwa hal atau kasus tertentu dipelajari untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar) tetapi juga perlu berhati-hati dan mencatat batasan dari generalisasi tersebut. Riset yang baik adalah orisinal, yang tidak selalu berarti membutuhkan informasi baru, tetapi bisa saja sekadar menambah pengetahuan dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya (Philips & Pugh 2005; 47-49). Kami juga dapat menambahkan bahwa penelitian yang baik menghormati prinsip-prinsip dasar etika penelitian, terhadap mereka yang kita pelajari, terhadap rekan-rekan kita dalam komunitas ilmiah, dan terhadap masyarakat.

APA PERTANYAAN PADA PENELITIAN YANG BAIK?

Riset empiris yang baik selalu didorong oleh pertanyaan riset (yang meneliti). Mengidentifikasi jenis pertanyaan dalam penelitian biasanya merupakan proses mempersempit ruang lingkup penyelidikan, dalam serangkaian langkah: pertama dari topik atau area penelitian umum (bidang penyelidikan) ke satu atau lebih pertanyaan penelitian umum: ini akan memandu pemikiran kita, dan mungkin sangat berharga dalam mengatur proyek penelitian, tetapi hal itu sendiri tidak cukup spesifik untuk dijawab dalam penelitian empiris. Oleh karena itu, kita harus beralih dari pertanyaan umum ke pertanyaan penelitian yang lebih spesifik, yang mana Ini mengikuti pertanyaan umum. Hal ini mengarahkan prosedur empiris (metode dan teknik), dan mereka adalah pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar dijawab dalam penelitian (punch 1998: ch.3).

Dengan demikian, pertanyaan penelitian memiliki peran yang sangat penting dalam setiap kegiatan penelitian

Mereka mengatur penelitian, memberikan arahan dan koherensi; mereka membatasi proyek, menunjukkan batas-batasnya; mereka membuat peneliti tetap fokus selama proyek; mereka menyediakan kerangka kerja untuk menulis proyek; dan mereka menunjukkan jenis data yang akan dibutuhkan. Dengan demikian, tidak mengherankan jika Punch mengatakan bahwa "pertanyaan yang diajukan dengan baik adalah pertanyaan yang setengah jawaban- pertanyaan penelitian yang dinyatakan dengan baik menunjukkan data apa yang akan diperlukan untuk menjawabnya" Punch 1998: 46-7)

Lalu apa pertanyaan penelitian yang bagus? Secara umum, kami dapat mengatakan bahwa pertanyaan penelitian yang baik harus jelas: dapat dengan mudah dipahami, dan tidak ambigu. Mereka harus melayani tujuan di luar dari sekedar deskripsi, yaitu analisis dan penjelasan. Mereka spesifik: konsep mereka berada pada tingkat yang cukup spesifik untuk dihubungkan dengan informasi empiris yang relevan. Mereka dapat dijawab (kita dapat melihat data apa yang diperlukan untuk menjawabnya), dan harus layak (kita dapat melihat bagaimana data tersebut dapat diperoleh). Mereka saling berhubungan: mereka terkait satu sama lain dalam beberapa cara yang artinya (keseluruhan yang koheren, bukan kumpulan pertanyaan acak tentang topik). Mereka belum banyak diteliti: dan akhirnya, mereka relevan secara substansial: mereka adalah pertanyaan yang menarik dan berharga untuk investasi upaya penelitian.

Tipikal proses dari "pengembangan pertanyaan penelitian" terutama melibatkan proses disagregasi atau pembagian pertanyaan; membagi pertanyaan umum menjadi bagian-bagian komponennya, menguraikan pertanyaan yang berbeda satu sama lain, mengurutkan dan mengelompokkan pertanyaan, dan akhirnya jika perlu mengorbankan beberapa pertanyaan untuk membatasi proyek (memangkas proyek ke ukuran yang dapat dikelola). Di antara (banyak) pertanyaan penelitian yang mungkin relevan dan penting yang mungkin telah kita identifikasi, kita perlu membuat beberapa pilihan eksplisit, pertanyaan mana yang sebenarnya akan kita coba jawab dalam penelitian kita sendiri.

Sedapat mungkin, dalam pengembangan pertanyaan penelitian penting untuk mengedepankan masalah substansi / isi sebelum masalah metode dan teknik, walaupun tentunya kemudian menjadi jelas bahwa beberapa pertanyaan penelitian yang teridentifikasi ternyata tidak dapat dijawab dengan metode dan data yang tersedia.

ETIKA DAN NILAI DALAM PENELITIAN (AGRARIA)

Di antara hak-hak tidak tertulis dan sering dilanggar dari masyarakat pedesaan, harus dimasukkan “hak untuk diteliti dengan benar”. Masalah etika dalam penelitian biasanya dibagi menjadi tiga jenis tanggung jawab penelitian; yaitu tanggung jawab terhadap mereka yang kita pelajari/teliti, kepada komunitas ilmiah, dan kepada masyarakat (Kimmel 1988). Banyak dari isu-isu ini yang disinggung dalam bab-bab buku Gunawan wiradi, namun mungkin berguna untuk meringkasnya di sini.

Etika protokol lembaga penelitian, sponsor dan asosiasi profesi, sepanjang berkaitan dengan hubungan antara peneliti dan subjek penelitian, umumnya didasarkan pada tiga prinsip utama: penjelasan dan persetujuan; privasi / kerahasiaan; dan prinsip "jangan merugikan". Untuk ini saya pikir kita harus menambahkan asas menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang kita pelajari/teliti.

Persetujuan dan penjelasan biasanya diartikan bahwa 'mereka yang diwawancarai atau diamati/diteliti harus memberikan izin mereka dengan pengetahuan penuh tentang tujuan penelitian dan konsekuensi dari mereka ketika mengambil bagian' (Piper & Simons 2005; 56). Bagaimana mungkin ini bisa dilakukan dalam situasi penelitian nyata, yang melibatkan, (misalnya) penelitian tentang kemiskinan agraria, kepemilikan tanah, isu-isu sensitif seperti konflik dan protes agraria, kegiatan ilegal atau tidak disetujui publik.

Contoh: jika melakukan penelitian tentang praktik perampasan tanah oleh pejabat atau perusahaan lokal, dan diberi kesempatan langka untuk mengenal pejabat pemerintah atau pejabat perusahaan yang korup dan mempelajari tentang praktik ilegal mereka, seberapa banyak Anda akan memberi tahu dia tentang tujuan belajar/penelitian anda? Dan terutama ketika jurang sosial / relasi kekuasaan antara penelitian dan subjek yang besar/luas, seberapa nyata persetujuan yang diberikan? Berapa penting tekanan bagi rekan-rekan dan 'penjaga gerbang' (misalnya, aparat desa, pemimpin masyarakat).

Haruskah ada kemungkinan persetujuan dan penjelasan untuk dinegosiasikan kembali setelah proses penelitian (wawancara, observasi partisipan, apa pun) telah dimulai dan subjek memiliki gagasan yang lebih baik tentang apa yang relevan?

Privasi / kerahasiaan / anonimitas: 'privasi' terdengar seperti perlindungan yang mudah untuk dijamin, tetapi apakah benar-benar mungkin bagi peneliti dari luar pada komunitas di pedesaan untuk berbicara dengan informan / responden sendiri, tanpa kehadiran sesuatu yang lain? Kerahasiaan "memungkinkan orang tidak hanya untuk berbicara (memberikan informasi) dengan percaya diri, tetapi juga bisa menolak untuk mengizinkan publikasi materi apa pun yang menurut mereka dapat membahayakan mereka dengan cara apa pun" - jadi bagaimana hal ini dapat dilakukan dalam praktik, apakah memungkinkan untuk semua subjek diberikan akses prapublikasi ke apa yang Anda tulis? Anonimitas (dengan memberikan nama samaran untuk nama orang, tempat, proyek, dll.) Adalah “prosedur untuk menawarkan perlindungan privasi dan kerahasiaan pada tingkat tertentu. Meskipun membantu… anonimisasi tidak dapat menjamin bahwa kerugian mungkin tidak terjadi ”(Piper & Simons 2005: 52). Bahkan ketika nama orang dan tempat diubah, jika seseorang benar-benar ingin tahu di mana penelitian dilakukan dan siapa subjeknya, mereka mungkin akan dapat mengetahuinya, dan peneliti harus menyadari hal itu.

Jangan merugikan ('nonmaleficence'): prinsip ini berarti bahwa "penelitian sosial tidak boleh menyebabkan kerugian, baik mental maupun fisik, kepada mereka yang terlibat ... namun tidak ada cara mutlak untuk mengurangi potensi bahaya bagi objek maupun subjek penelitian" ( McAuley 2003: 97)

Ada banyak kasus yang terdokumentasi di mana penelitian telah merugikan subjek dengan, misalnya: menyebabkan perubahan nyata pada kesehatan, kepribadian, harga diri mereka; menundukkan mereka pada pengalaman yang menciptakan ketegangan / kecemasan; pengumpulan informasi yang mungkin mempermalukan mereka, atau membuat mereka bertanggung jawab atas tindakan hukum atau serangan fisik jika dipublikasikan, menghadapkan mereka dengan informasi yang tidak menyenangkan tentang diri mereka sendiri, mempermalukan mereka dalam proses wawancara. Tingkat keparahan masalah ini seringkali berkorelasi dengan relasi kuasa antara peneliti dan subjek.

Pertanyaan yang kita perlukan atau tanyakan sebagai peneliti adalah: apakah selalu mungkin, dalam situasi penelitian nyata, untuk memenuhi semua harapan ini? Dan jika tidak, apa dasar untuk membuat keputusan sulit tentang masalah ini dalam program proyek penelitian?

Tanggung jawab penelitian terhadap masyarakat (termasuk sponsor penelitian) melibatkan kebutuhan untuk melindungi kepentingan dan hak masyarakat secara luas, misalnya dengan memilih topik penelitian yang relevan dengan sosial; menghindari sejumlah “-isme” yang sarat nilai termasuk seksisme, elitisme, pemerintahanisme, dll. dalam cara mengembangkan metodologi dan pertanyaan penelitian kita; menyadari semua kemungkinan konflik kepentingan, misalnya menuntut kebebasan ilmiah ketika pemerintah atau perusahaan yang mensponsori penelitian terlibat; dan tentu saja, dengan jujur dalam melaporkan hasil penelitian, meskipun tidak sesuai dengan yang kita harap / ingin (atau harapkan atau keinginan kita) temukan.

Terakhir, ada serangkaian tanggung jawab penelitian terhadap komunitas ilmiah (rekan-rekan dan sesama peneliti) dalam pengumpulan, analisis, & pelaporan data penelitian sosial. Ini dirangkum dengan sangat baik oleh Booth, Colomb, dan William sebagai kumpulan tujuh "larangan" dalam etika penelitian, peneliti yang beretika tidak:

- Mencuri dengan cara menjiplak (mengklaim karya, ide, data, hasil orang lain sebagai milik mereka

- Berbohong dengan salah melaporkan sumber atau dengan menemukan hasil - merusak sumber dan data bagi yang ikuti

- Mengirimkan data yang keakuratannya mereka pertanyakan

- Menyembunyikan keberatan / kelemahan yang tidak bisa mereka bantah

MengKarikaturkan mereka yang memiliki pandangan yang berlawanan, atau dengan sengaja menyatakan pandangan mereka dengan cara yang akan mereka tidak sepakati

- Tidak jelas: Menulis laporan mereka dengan cara yang sengaja menyulitkan pembaca untuk memahaminya 

(diadaptasi dari Booth, Colomb & Williams 1995: 255-6)

Bagikan

Related Posts

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »