Saat Depresi Mengenalkanmu Pada Filsafat Stoa

Halo semua, saya akan mencoba membuat tulisan pengantar tentang sebuah aliran filsafat. Namanya Filsafat stoicism. sebutan lainnya yaitu filosofi Stoa (alasanya biar lebih mudah diucapkan). Adapula yang menyebutnya Filosofi Teras, diambil dari penerjemahan Stoic = teras. Untuk pengertian, sejarah dan para pemikir dari aliran filsafat ini, bisa teman-teman cari nantinya di mesin pencari google atau akan kita bahas di tulisan selanjutnya

Saya sendiri menemukan Stoa ini di saat saya sedang mengalami kondisi yang sangat berat dalam hidup saya. entah kondisinya sudah bisa dikatakan depresi atau belum, saya tidak tahu pasti.

Mengutip dari data yang dirilis melalui detik.com per 2019 lalu, "Di Indonesia, saat itu diperkirakan terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi. Angka ini terus meningkat dan menempatkan depresi menjadi penyakit dengan kasus kedua tertinggi setelah penyakit jantung". Ngeri ya? 😢

Di tengah wabah pandemi yang masih ada sampai 2021 ini, sudah bisa ditebak bahwa angka ini pasti meningkat dengan sangat drastis. itulah mungkin mengapa, hari ini saya melihat pembahasan mengenai hal-hal seperti filosofi Stoa ini mulai bermunculan.

Lalu apa hubungannya filosofi Stoa dengan gejala Depresi? Dari pengalaman saya, panduan hidup praksis satu ini telah membantu menyelamatkan saya dari depresi yang saya alami. Stoa bukan hanya mengubah banyak pandangan saya terkait dunia, tapi juga melatih saya untuk siap menjalani keseharian saya kembali.

Ini memang adalah sebuah filsafat praksis. Artinya Filsafat ini hanya akan berguna apabila dilatih dan dipraktikkan secara terus menerus. Persis seperti olahraga untuk menyehatkan tubuh, menyehatkan mental juga butuh proses olah dan latih setiap hari.

Di Indonesia ini, pengetahuan tentang depresi dan penangananya masih sangat minim. Masih mengutip dari sumber detik.com, orang depresi yang berobat jumlahnya sangatlah kecil yaitu hanya 8 persen saja.

Minimnya pengetahuan soal depresi tentu saja adalah situasi yang berbahaya, baik bagi orang yang mengalaminya maupun orang yang berada di lingkungan orang tersebut. Itu karena depresi bisa sangat samar dan bahkan tidak telihat. Berbeda dengan sakit fisik misalnya patah tulang, atau luka gores. Untuk kasus depresi, bisa saja kamu melihat orang terdekatmu tersenyum ceria pada banyak kesempatan seperti tak terjadi apa-apa, tapi mendapati mayatnya tergantung di pohon halaman rumah pada keesokan harinya.

Melalui pengenalan dan pendalaman terhadap filosofi Stoa ini, saya berharap ada pegangan dan resep bagi jiwa-jiwa depresi agar bisa terselamatkan. Mungkin itu saja pengantar pengenalan tentang filosofi Stoa. Kita akan membahas lebih lanjut pada tulisan selanjutnya. Sekian dan terima kasih.

Sinjai, 21/03/2021







Bagikan

Related Posts

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »