Dari Buku Ambyar Untuk Adik-Adik Tentang Cinta

Saya mulai dari satu tesis, "Kalau kalian sudah memasuki masa puber, besar kemungkinan kalian melewati siklus sederhana ini, pernah pacaran lalu menjadi jomblo patah hati". Anggap saja begitu.

Tidak ada yang menyalahkan kalian kalau jatuh cinta saat kalian masih seumur jagung, gais, toh masa puber itu alami, seperti jatuh cinta yang tidak seorangpun bisa memprediksi kapan ia datang. bukan?

Kalau kalian menyaksikan kakak-kakak pendahulu kalian ada yang mengalami patah hati, atau parahnya mengalami depresi, kalian tidak perlu khawatir, mungkin ada yang salah dari mereka tentang melakoni cinta, saya berharap kalian tidak membangun persepsi final di pikiran kalian bahwa jatuh cinta itu sedemikian menakutkan, jangan sampai yah. Kalaupun ada ketakutan itu, Setidaknya melalui tips-tips sederhana ini, kalian bisa mempersiapkan diri mengarunginya.

Kenapa tulisan ini saya specialkan buat kalian anak-anak muda yang beranjak dewasa, itu karena kakak-kakak kalian mungkin sudah bebal sehingga tiada harapan lagi menyelamatkan mereka, jadi biarkan saja.


Yuk Kita masuk pada tips pertama, (Ingat baik-baik) Buang 'modus' ke tempat Sampah.

'Modus' dan cinta adalah dua hal yang saling bertentangan tak terdamaikan. Jangan pernah bermimpi mencapai Cinta sejati dengan tindakan-tindakan remeh bersifat 'modus', karena kalian akan menghancurkannya.

Kalau kalian ingin mendekati seseorang karena kalian tertarik padanya atau mulai merasakan 'debar-debar aneh', hal pertama yang harus kalian niatkan adalah menjalani sebuah cinta yang tanpa pamrih. Ingat, tanpa pamrih. Lakukanlah karena kalian mencintainya. Kalau ekspresi cinta kalian adalah perwujudan dari rasa yang luhur, maka bawaannya adalah kepuasan pada diri sendiri. Di sana harapan akan balasan tidak lagi menjadi prioritas. Dengan begitu, kalian bisa terhindar dari pengharapan palsu akan hubungan timbal balik yang semu.

Lalu apakah setelah mengekspresikan cinta yang tanpa pamrih lantas kalian akan terhindar dari menderita kegalauan tak bertepi, belum tentu, hahaa.. jadi tidak usah senang dulu. Yang pasti kalian sudah mempraktikan sebuah 'filosofi kuno' yang luhur dan mulai terlupakan. dan itu baik, kan?

Tips kedua, Over dalam membantu itu tidak selamanya baik, maka lakukanlah seperlunya.

Bahasan di atas mungkin memunculkan pembangkangan usil di dalam benak kalian, 'Argh.. orang baik yang tanpa pamrih itu tidak ada lagi di jaman ini bung, kebaikan hari ini sangat rentan dimanfaatkan'. Pikiran tersebut wajar saja, kita tidak heran mengapa orang begitu mengagumi sosok joker (di film yang terakhir), dan quotesnya 'orang jahat adalah orang baik yang tersakiti' menjadi kutipan yang populer sampai saat ini.

Begini, cinta bukanlah barang yang bisa diperlakukan layaknya barang dagangan, dimana prosesi tawar menawar adalah prasyaratnya. Bukan. Itulah mengapa doktrin take and gift adalah doktrin yang wajib diperiksa kembali khususnya untuk urusan yang berkaitan dengan cinta.

Saya juga bukannya meragukan salah satu hukum newton yang bilang begini, 'setiap tindakan mendatangkan reaksi emosional dari pihak lawan dan kadarnya setara.' Tapi kenyataan terkadang sangat keras kepala.

Orang yang sedang jatuh cinta kadang tidak mampu mengontrol dirinya. Rasa bahagia dan bersemangat mendorongnya untuk melakukan banyak hal kepada orang yang dicintainya itu. 'saya akan  membahagiakannya, saya akan memberikan segalanya untuknya, dan sebagainya'. Anggaplah itu misalnya kalian lakukan tanpa pamrih, tapi tidak cukup, karena bisa saja akan melahirkan masalah baru, sebuah 'jurang kesenjangan'.

Adanya 'Jurang kesenjangan' yang tajam sangat mungkin menyinggung rasa keadilan kita. "Saya sudah memberikan laptop agar kamu tidak perlu repot-repot ke tempat pengetikan, saya sudah membelikan kuota internet selama pandemi untuk kuliah daringmu, saya sudah ini, saya sudah itu dan seterusnya, tapi kamu balasannya apa? Chat wa ku saja jarang kamu baca, kalaupun dibaca, jarang kamu balas, kalaupun kamu balas itu butuh waktu berhari-hari, padahal ini aplikasi wa, dan kita bukan lagi di zaman pengiriman pesan memakai merpati, ini tidak adil", nah lho.?!

Jadi, bantulah hanya ketika orang yang kalian cintai ini benar-benar membutuhkannya, bukan karena kalian ingin mengekspresikan cinta kalian yang tak terbendung itu.Obat saja kalau dikonsumsi melebihi takaran bisa overdosis kan?.

Kemudian akan diarahkan kemana lagi luapan cinta yang menggelora tersebut?, Saran saya, gunakan sebagian untuk mencintai diri kalian sendiri, Karena kalian akan membutuhkannya kelak, cepat atau lambat.

Tips ketiga, persiapkah diri kalian memeluk penderitaan yang kemungkinan datang?

Seorang filsuf (saya lupa namanya) telah menyimpulkan bahwa "penderitaan adalah Konstanta Universal, ini tidak bisa dihindari sebanyak apapun kita berkelit".

Belum cukup,? Biar saya tambahkan sebuah puisi dari orang yang didapuk oleh banyak orang sebagai 'nabi cinta', Pak kahlil gibran. Berdosa rasanya tidak menyebut nama beliau ketika kita bicara tentang cinta. Beliau bersyair "Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, walau jalannya sukar dan curam. Dan apabila sayapnva memelukmu, menyerahlah kepadanya. Walau pedang yang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu. Dan kalau dia bicara padamu, percayalah padanya, walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman. Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia akan menyalibmu,"

Itulah kenyataannya, Kuat-kuatkan diri kalian, itulah juga kenapa saya menyarankan agar ketika kalian dianugerahi cinta bergelora yang tiba-tiba datang, untuk menyisakannya sebahagian untuk diri kalian sendiri.

Maksud saya agar saat penderitaan itu datang (dan dia pasti akan datang), personal kalian siap untuk memeluknya, setidaknya hantamannya tidak membuat kalian mati, sehingga kalian bisa menjadikannya pelajaran, merubah kesakitan dan penderutaan menjadi karakter yang kuat dan baik, baik bagi kalian maupun kepada orang yang kalian cintai.

Terakhir, jujur saja, tulisan ini hanya pengembangan catatan-catatan kecil yang biasa saya buat ketika membaca sebuah buku. Niatnya mau dibuat jadi resensi, apalah daya saya belum tahu bagaimana caranya, maka jadilah ia tulisan pendek ini.

Sialnya lagi, isi buku ini (judulnya: segala-galanya ambyar) terlalu berat bagi saya dan saya belum menamatkannya, jadi saya tidak menyarankan kalian menganggap tips di atas serius kecuali kalau kalian merasa reasoned dengan kehidupan kalian dan ingin mencobanya. Okay!

Sinjai, 22/03/2021
Penulis

Bagikan

Related Posts

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »