Dari Buku Ambyar Untuk Adik-Adik Tentang Cinta

Dari Buku Ambyar Untuk Adik-Adik Tentang Cinta
Saya mulai dari satu tesis, "Kalau kalian sudah memasuki masa puber, besar kemungkinan kalian melewati siklus sederhana ini, pernah pacaran lalu menjadi jomblo patah hati". Anggap saja begitu.

Tidak ada yang menyalahkan kalian kalau jatuh cinta saat kalian masih seumur jagung, gais, toh masa puber itu alami, seperti jatuh cinta yang tidak seorangpun bisa memprediksi kapan ia datang. bukan?

Kalau kalian menyaksikan kakak-kakak pendahulu kalian ada yang mengalami patah hati, atau parahnya mengalami depresi, kalian tidak perlu khawatir, mungkin ada yang salah dari mereka tentang melakoni cinta, saya berharap kalian tidak membangun persepsi final di pikiran kalian bahwa jatuh cinta itu sedemikian menakutkan, jangan sampai yah. Kalaupun ada ketakutan itu, Setidaknya melalui tips-tips sederhana ini, kalian bisa mempersiapkan diri mengarunginya.

Kenapa tulisan ini saya specialkan buat kalian anak-anak muda yang beranjak dewasa, itu karena kakak-kakak kalian mungkin sudah bebal sehingga tiada harapan lagi menyelamatkan mereka, jadi biarkan saja.


Yuk Kita masuk pada tips pertama, (Ingat baik-baik) Buang 'modus' ke tempat Sampah.

'Modus' dan cinta adalah dua hal yang saling bertentangan tak terdamaikan. Jangan pernah bermimpi mencapai Cinta sejati dengan tindakan-tindakan remeh bersifat 'modus', karena kalian akan menghancurkannya.

Kalau kalian ingin mendekati seseorang karena kalian tertarik padanya atau mulai merasakan 'debar-debar aneh', hal pertama yang harus kalian niatkan adalah menjalani sebuah cinta yang tanpa pamrih. Ingat, tanpa pamrih. Lakukanlah karena kalian mencintainya. Kalau ekspresi cinta kalian adalah perwujudan dari rasa yang luhur, maka bawaannya adalah kepuasan pada diri sendiri. Di sana harapan akan balasan tidak lagi menjadi prioritas. Dengan begitu, kalian bisa terhindar dari pengharapan palsu akan hubungan timbal balik yang semu.

Lalu apakah setelah mengekspresikan cinta yang tanpa pamrih lantas kalian akan terhindar dari menderita kegalauan tak bertepi, belum tentu, hahaa.. jadi tidak usah senang dulu. Yang pasti kalian sudah mempraktikan sebuah 'filosofi kuno' yang luhur dan mulai terlupakan. dan itu baik, kan?

Tips kedua, Over dalam membantu itu tidak selamanya baik, maka lakukanlah seperlunya.

Bahasan di atas mungkin memunculkan pembangkangan usil di dalam benak kalian, 'Argh.. orang baik yang tanpa pamrih itu tidak ada lagi di jaman ini bung, kebaikan hari ini sangat rentan dimanfaatkan'. Pikiran tersebut wajar saja, kita tidak heran mengapa orang begitu mengagumi sosok joker (di film yang terakhir), dan quotesnya 'orang jahat adalah orang baik yang tersakiti' menjadi kutipan yang populer sampai saat ini.

Begini, cinta bukanlah barang yang bisa diperlakukan layaknya barang dagangan, dimana prosesi tawar menawar adalah prasyaratnya. Bukan. Itulah mengapa doktrin take and gift adalah doktrin yang wajib diperiksa kembali khususnya untuk urusan yang berkaitan dengan cinta.

Saya juga bukannya meragukan salah satu hukum newton yang bilang begini, 'setiap tindakan mendatangkan reaksi emosional dari pihak lawan dan kadarnya setara.' Tapi kenyataan terkadang sangat keras kepala.

Orang yang sedang jatuh cinta kadang tidak mampu mengontrol dirinya. Rasa bahagia dan bersemangat mendorongnya untuk melakukan banyak hal kepada orang yang dicintainya itu. 'saya akan  membahagiakannya, saya akan memberikan segalanya untuknya, dan sebagainya'. Anggaplah itu misalnya kalian lakukan tanpa pamrih, tapi tidak cukup, karena bisa saja akan melahirkan masalah baru, sebuah 'jurang kesenjangan'.

Adanya 'Jurang kesenjangan' yang tajam sangat mungkin menyinggung rasa keadilan kita. "Saya sudah memberikan laptop agar kamu tidak perlu repot-repot ke tempat pengetikan, saya sudah membelikan kuota internet selama pandemi untuk kuliah daringmu, saya sudah ini, saya sudah itu dan seterusnya, tapi kamu balasannya apa? Chat wa ku saja jarang kamu baca, kalaupun dibaca, jarang kamu balas, kalaupun kamu balas itu butuh waktu berhari-hari, padahal ini aplikasi wa, dan kita bukan lagi di zaman pengiriman pesan memakai merpati, ini tidak adil", nah lho.?!

Jadi, bantulah hanya ketika orang yang kalian cintai ini benar-benar membutuhkannya, bukan karena kalian ingin mengekspresikan cinta kalian yang tak terbendung itu.Obat saja kalau dikonsumsi melebihi takaran bisa overdosis kan?.

Kemudian akan diarahkan kemana lagi luapan cinta yang menggelora tersebut?, Saran saya, gunakan sebagian untuk mencintai diri kalian sendiri, Karena kalian akan membutuhkannya kelak, cepat atau lambat.

Tips ketiga, persiapkah diri kalian memeluk penderitaan yang kemungkinan datang?

Seorang filsuf (saya lupa namanya) telah menyimpulkan bahwa "penderitaan adalah Konstanta Universal, ini tidak bisa dihindari sebanyak apapun kita berkelit".

Belum cukup,? Biar saya tambahkan sebuah puisi dari orang yang didapuk oleh banyak orang sebagai 'nabi cinta', Pak kahlil gibran. Berdosa rasanya tidak menyebut nama beliau ketika kita bicara tentang cinta. Beliau bersyair "Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, walau jalannya sukar dan curam. Dan apabila sayapnva memelukmu, menyerahlah kepadanya. Walau pedang yang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu. Dan kalau dia bicara padamu, percayalah padanya, walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman. Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia akan menyalibmu,"

Itulah kenyataannya, Kuat-kuatkan diri kalian, itulah juga kenapa saya menyarankan agar ketika kalian dianugerahi cinta bergelora yang tiba-tiba datang, untuk menyisakannya sebahagian untuk diri kalian sendiri.

Maksud saya agar saat penderitaan itu datang (dan dia pasti akan datang), personal kalian siap untuk memeluknya, setidaknya hantamannya tidak membuat kalian mati, sehingga kalian bisa menjadikannya pelajaran, merubah kesakitan dan penderutaan menjadi karakter yang kuat dan baik, baik bagi kalian maupun kepada orang yang kalian cintai.

Terakhir, jujur saja, tulisan ini hanya pengembangan catatan-catatan kecil yang biasa saya buat ketika membaca sebuah buku. Niatnya mau dibuat jadi resensi, apalah daya saya belum tahu bagaimana caranya, maka jadilah ia tulisan pendek ini.

Sialnya lagi, isi buku ini (judulnya: segala-galanya ambyar) terlalu berat bagi saya dan saya belum menamatkannya, jadi saya tidak menyarankan kalian menganggap tips di atas serius kecuali kalau kalian merasa reasoned dengan kehidupan kalian dan ingin mencobanya. Okay!

Sinjai, 22/03/2021
Penulis

Saat Depresi Mengenalkanmu Pada Filsafat Stoa

Saat Depresi Mengenalkanmu Pada Filsafat Stoa
Halo semua, saya akan mencoba membuat tulisan pengantar tentang sebuah aliran filsafat. Namanya Filsafat stoicism. sebutan lainnya yaitu filosofi Stoa (alasanya biar lebih mudah diucapkan). Adapula yang menyebutnya Filosofi Teras, diambil dari penerjemahan Stoic = teras. Untuk pengertian, sejarah dan para pemikir dari aliran filsafat ini, bisa teman-teman cari nantinya di mesin pencari google atau akan kita bahas di tulisan selanjutnya

Saya sendiri menemukan Stoa ini di saat saya sedang mengalami kondisi yang sangat berat dalam hidup saya. entah kondisinya sudah bisa dikatakan depresi atau belum, saya tidak tahu pasti.

Mengutip dari data yang dirilis melalui detik.com per 2019 lalu, "Di Indonesia, saat itu diperkirakan terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi. Angka ini terus meningkat dan menempatkan depresi menjadi penyakit dengan kasus kedua tertinggi setelah penyakit jantung". Ngeri ya? 😢

Di tengah wabah pandemi yang masih ada sampai 2021 ini, sudah bisa ditebak bahwa angka ini pasti meningkat dengan sangat drastis. itulah mungkin mengapa, hari ini saya melihat pembahasan mengenai hal-hal seperti filosofi Stoa ini mulai bermunculan.

Lalu apa hubungannya filosofi Stoa dengan gejala Depresi? Dari pengalaman saya, panduan hidup praksis satu ini telah membantu menyelamatkan saya dari depresi yang saya alami. Stoa bukan hanya mengubah banyak pandangan saya terkait dunia, tapi juga melatih saya untuk siap menjalani keseharian saya kembali.

Ini memang adalah sebuah filsafat praksis. Artinya Filsafat ini hanya akan berguna apabila dilatih dan dipraktikkan secara terus menerus. Persis seperti olahraga untuk menyehatkan tubuh, menyehatkan mental juga butuh proses olah dan latih setiap hari.

Di Indonesia ini, pengetahuan tentang depresi dan penangananya masih sangat minim. Masih mengutip dari sumber detik.com, orang depresi yang berobat jumlahnya sangatlah kecil yaitu hanya 8 persen saja.

Minimnya pengetahuan soal depresi tentu saja adalah situasi yang berbahaya, baik bagi orang yang mengalaminya maupun orang yang berada di lingkungan orang tersebut. Itu karena depresi bisa sangat samar dan bahkan tidak telihat. Berbeda dengan sakit fisik misalnya patah tulang, atau luka gores. Untuk kasus depresi, bisa saja kamu melihat orang terdekatmu tersenyum ceria pada banyak kesempatan seperti tak terjadi apa-apa, tapi mendapati mayatnya tergantung di pohon halaman rumah pada keesokan harinya.

Melalui pengenalan dan pendalaman terhadap filosofi Stoa ini, saya berharap ada pegangan dan resep bagi jiwa-jiwa depresi agar bisa terselamatkan. Mungkin itu saja pengantar pengenalan tentang filosofi Stoa. Kita akan membahas lebih lanjut pada tulisan selanjutnya. Sekian dan terima kasih.

Sinjai, 21/03/2021







Sebuah Salam Perkenalan Dari Linonippi

Sebuah Salam Perkenalan Dari Linonippi
Dari kami untuk kalian yang sedang membaca tulisan ini, salam kenal. Semoga kalian sehat dan bahagia, kalaupun sedang tidak, kami berharap keaadaan kalian akan segera membaik. Aamin.

Hari ini, Sinjai pada Senin, 15 Maret, tepatnya pukul 02:00 dinihari sesaat setelah hujan lebat mengguyur, dan suara kodok masih bersahutan memecah hening, kami sampaikan kelahiran Linonippi ke dunia.

Nama linonippi diambil dari dua buah kata yaitu Lino dan Nippi. Keduanya adalah kata dalam bahasa bugis, salah satu suku di Sulawesi selatan, Indonesia. Lino dalam bahasa Indonesia berarti Dunia, sedangkan Nippi diterjemahkan sebagai mimpi, jadi apabila disatukan maka Linonippi berarti dunia mimpi.

Oh iya, Sebuah info penting, bahwa nama ini bukan kami yang menciptakan, melainkan orang lain. kami hanya pernah mendengarnya digunakan oleh sebuah entah komunitas / grup / kelompok / projekan, di Kota Makassar beberapa tahun Silam. Sampai detik ini kami belum mengetahui pasti apakah mereka masih eksis atau tidak. Kalaupun dibelakang hari penggunaan nama ini mereka persoalkan, kami siap menerimanya.

Linonippi adalah sebuah blog yang akan berisi beragam jenis tulisan. Artinya Kami akan mengisinya dengan tulisan apapun yang kami anggap penting dan berharga untuk dibagi. Juga, Baik itu tulisan kami sendiri ataupun tulisan orang lain.

Mungkin itu saja dulu yang kami sampaikan sebagai uluran tangan perkenalan, Bila ada yang dirasa belum cukup, Kalian bisa menuliskannya di kolom komentar, kami akan membalasnya semampu kami.

Sekali lagi salam kenal. Sampai ketemu lagi ditulisan selanjutnya.

Linonippi.

Puisi Charlie Chaplin Tentang Mencintai Diri Sendiri

Puisi Charlie Chaplin Tentang Mencintai Diri Sendiri


Saat saya mulai mencintai diri saya, saya akhirnya menyadari bahwa penderitaan dan tekanan emosional adalah tanda bahwa saya selama ini hidup melawan KEBENARAN YANG SAYA PERCAYAI. Hari ini saya sadar bahwa sebenarnya itu adalah KESEJATIAN.

Saat saya mulai mencintai diri saya, saya mulai menyadari setiap akibat besar dari memberatkan seseorang saat saya memaksakan keinginan saya kepadanya, apalagi disaat waktunya tidak tepat untuk orang itu dan untuk saya sendiri. Hari ini saya menyebutnya MENGHARGAI.

Saat saya mulai mencintai diri saya sendiri, saya berhenti mendambakan kehidupan yang berbeda, dan saya lalu bisa menyadari kalau segala sesuatu yang terjadi di sekeliling saya menstimulus saya untuk tumbuh.
Hari ini saya menyebutnya KEDEWASAAN

Saat saya mulai mencintai diri sendiri, saya percaya bahwa dalam keadaan apapun, saya sudah berada pada waktu dan tempat yang tepat, dan segalanya terjadi di momen yang tepat, jadi sudah seharusnya saya tenang. Hari ini saya menyebutnya PERCAYA DIRI.

Saat saya mulai mencintai diri saya sendiri, saya berhenti mengatur waktu dengan kaku dan berhenti merancang agenda-agenda besar untuk masa depan. Hari ini saya hanya melakukan hal-hal yang bisa membuat saya senang dan bahagia. Mengerjakan sesuatu yang saya sukai, dan membuat hati saya terhibur, dan saya akan melakukannya dengan cara dan irama saya sendiri. hari ini Saya menyebutnya KESEDERHANAAN

Saat saya mulai mencintai diri saya sendiri, saya mulai menghindari hal-hal yang tidak berguna untuk kesehatan saya, baik itu terkait makanan, mental, pikiran, situasi, atau segala sesuatu yang membuat saya terpuruk, dan membuat saya tidak menjadi diri sendiri. Awalnya saya menyebut itu keegoisan, tapi hari ini saya menyebutnya MENCINTAI TUBUH SENDIRI.

Saat saya mulai mencintai diri saya, saya berhenti untuk selalu merasa benar, bla bla bla, hari ini saya menyadarinya sebagai KERENDAHAN HATI

Saat saya mulai mencintai diri saya sendiri, saya menolak untuk terjebak pada kehidupan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Sekarang saya menjalani hidup pada moment saat ini, dimana segala sesuatu sedang terjadi.Hari ini saya menjalani hidup  hari demi hari, dan saya menyebutnya PEMENUHAN.

Saat saya mulai mencintai diri saya sendiri, saya mengetahui bahwa pikiran saya bisa sangat menggangu dan bahkan membuat saya menderita, tapi ketika saya mampu menghubungkan isi pikiran itu dengan hati, pikiran saya berubah menjadi teman berharga.
Hari ini saya menyebutnya HARAPAN JIWA

Kita tidak perlu lagi takut pada argumentasi, konfrontasi, atau masalah lainnya yang berkaitan dengan diri kita atau orang lain. Bahkan bintang-bintang kadang saling berbenturan dan keluar dari jalurnya dimana dari sana hal-hal baru terlahir. Hari ini saya tahu bahwa itulah KEHIDUPAN.

Siapa yang Mampu Mengontrol Libido Berwisata Kita?

Siapa yang Mampu Mengontrol Libido Berwisata Kita?


"Berangkat dari mindset sebagai species penguasa bumi yang berakal, manusia menganggap mereka dilahirkan untuk mengubah bumi menjadi surganya, tetapi tragisnya mereka dilahirkan penuh kekurangan, sehingga begitulah, surga yg coba dibuatnya malah selalu dimanjakan oleh kebodohan, keserakahan, kehancuran, dan kepicikan."


Kutipan pembuka yang diambil dari novel Ishmael karya Daniel Quinn di atas mungkin terlalu serius bagi pembaca yang ingin bersantai menikmati bacaan pendek yang renyah sambil menyeruput kopi pahit. Tapi apa boleh buat, tulisan ini dari huruf pertama sampai akhir isinya serius semua.


Naiknya trend wisata beberapa tahun terakhir terasa sangat signifikan. Untuk bukti, bisa dilihat dari banyaknya gambar atau video orang berwisata atau membangun tempat wisata, bertebaran selazimnya spectacle setiap hari di sosmed kita.


Sementara di sisi yang lain, sesak keseharian kita oleh situasi politik yang semakin terpolarisasi, berkait-kelindan dengan memburuknya persoalan ekonomi ditengah wabah covid-19, dan lain sebagainya, terus berlanjut mengalahkan durasi Drakor berepisode paling banyak sekalipun. Mungkin.


Bisa saja dua ilustrasi di atas, terkait satu sama lain, di mana salah satu peristiwa menjadi katalis bagi fenomena lainnya. Silahkan anda simpulkan nanti. Seterangnya, saya hanya mencoba menunjukkan tentang egoisme paripurna dari species bernama manusia.


Kembali pada topik. Tentu tidak ada yang berhak untuk melarang manusia berwisata atau membuat tempat wisata. Bersenang-senang, merefresh otaknya yang mumet karena persoalan keseharian atau melipur lara hatinya karena selalu dikarunia toxic relationship, misalnya. Tidak sama sekali. Hanya saja, situasi nampaknya sedang lepas kendali.


Seperti gayung bersambut, animo berwisata masyarakat yang besar ini menjadi sangat menggiurkan bagi segelintir lapisan masyarakat lainnya yang memiliki modal dan juga kuasa. Wisata adalah "tambang emas",


Pada akhirnya, sesuatu yang teramat penting mengabur dari perhatian, yaitu hal lain yang ada di luar kita. Manusia tidak sendirian di planet ini, bukan? (saya berharap ini bukan kabar baru bagi sebagian dari kita), atau biar saya ulangi dengan sedikit tambahan, manusia bukan satu-satunya species di muka bumi ini, ada sangat banyak species lainnya, dan sialnya manusia sangat bergantung pada species lain tersebut melebihi ketergantungannya pada speciesnya sendiri.


Sampai titik ini, dua ilustrasi pembuka di atas (yang apabila memang saling terkait), secara otomatis telah menarik hal lain di luar daripada manusia itu sendiri ke dalam pertarungan, yaitu lingkungannya, alamnya.


Meskipun tidak semua, namun faktanya sangat banyak objek alam atau objek yang ada di alam yang awalnya merupakan sesuatu yang masih perawan (atau agar tidak bias gender saya tulis juga masih perjaka), apapun itu, yang disihir menjadi objek wisata.


Apakah ini jadi masalah? Mungkin belum, karena memang dari sejak jaman manusia pintar membuat perkakas kerja, kita, species yang beruntung ini, selalu memiliki peran besar mengubah alam seturut kemauan kita. Yang menjadi masalah kemudian apabila objek alam yang dirubah tersebut pada akhirnya malah berdampak sangat negativ, seperti kerusakan lingkungan atau kehancuran sebuah ekosistem.


Well... Langsung saja, izinkan saya mengkonfirmasinya dengan beberapa contoh kasus yang sedang terjadi. Contoh pertama, ini terjadi di kampung saya. Tersebutlah sebuah tempat yaitu Hutan Ma'ra yang berada di gunung Bawakaraeng, salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. 


Hutan ini merupakan sedikit dari Hutan hujan Indonesia yang tersisa. Seperti hutan pada umumnya, Ma'ra berfungsi sebagai penyangga kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun species flora dan fauna yang berada di dalam dan di area sekitarnya.


Sumber airnya misal, dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk kegunaan sehari-hari. Lalu, bagi species bukan manusia, Hutan Ma'ra adalah 'rumah', khususnya bagi salah satu hewan endemik di dunia, yaitu Anoa, salah satu jenis species hewan langka yang sangat sensitif.


Hutan Ma'ra sebagai kawasan konservasi lahir melalui pertimbangan kebencanaan dan pelestarian. Saya kutipkan pernyataan Muhlis Salfat, S.TP.,MP, seorang peneliti bencana, terkait hutan Ma'ra. "Hutan ini terletak pada koordinat (120.01548,– 5.18320), dengan Kemiringan wilayah berada pada kisaran (>40%). 


Berdasarkan interpretasi peta, dapat diketahui jenis tanah di Ma'ra berupa andesit, basalt, tephra, berbutir halus. Ini merupakan jenis tanah yang tidak dapat mengikat air yang datang, sehingga sangat rawan longsor.


Lalu datanglah Negara Api menyerang, Dikomandoi oleh Bupati dan para punggawanya yang maha keblinger. Dibuatlah rencana pembangunan dengan dalih pemanfaatan, atau lebih jelasnya menjadikan areal konservasi Hutan ma'ra sebagai daerah tujuan wisata.


Alhasil, sekitar1,2 Ha vegetasi alam dirusak untuk membangun areal bumi perkemahan, ditambah dengan jalur bersepeda dengan luas jalur sekitar 1,5 M sepanjang 2 Km, dan bangunan wisata kuliner dengan luas bla..bla.. bla (saya belum punya datanya).


Sedemikian ironisnya, sampai detik tulisan ini saya ketik, pemerintah setempat tetap ngotot melanjutkan niat konyolnya meski diprotes berjilid-jilid oleh masyarakat.


Di belahan bumi yang lain, masih di wonderfull Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Komodo, rumah habitat komodo sedang diusik. Habitat hewan langka tersebut, sedang dihancurkan menjadi tempat wisata juga.


Agar anda tidak perlu repot gugling sana sini soal Komodo dan habitatnya, biar saya kutipkan dari bisnis.com tentang ini. "Komodo (Varanus komodoensis) termasuk spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo sekaligus satu-satunya di dunia (Komodo juga merupakan warisan dari zaman purbakala, karena Komodo termasuk dalam Hewan Purba yang telah hidup jutaan tahun lalu di Indonesia). Habitat aslinya di Taman Nasional Komodo termasuk di Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara Timur".


"Selama ribuan tahun Ata Modo & Komodo Dragon hidup bersama di kawasan konservasi itu, yang oleh para antropolog, disebut interspecies companionship (kekerabatan antar-spesies)".


Mereka hidup lestari dan berkembang di benteng pertahanan mereka yang terakhir, sampai ketika muncul ide briliant manusia untuk membuat tempat wisata sejenis Jurrasic park di sana, pemirsa, tepat di habitat mereka.


Lantas, herankah saya melihat fakta akan tindakan menyulap area konservasi, menjadi tujuan wisata, Tidak. Kenapa? Karena yah itu tadi, kita adalah species pilihan, satu-satunya makhluk yang dianugerahi akal untuk menjadi penguasa atas segala yang ada di muka bumi ini.

Ada Apa dengan Donald Trump?

Ada Apa dengan Donald Trump?


Tulisan ini dibuat ketika detik-detik proses pilpres Amerika Serikat mendekati titik klimaks. Sayang rasanya melewatkan momen tersebut dengan tidak membahas satu figur sentralnya, Donald trump. Apabila kita menggunakan pendekatan sudut pandang 'agama interpersonal', Donald trump adalah satu dari sedikit orang di dunia hari ini yang hampir mendekati level 'nilai tuhan'.


Beliau adalah pengusaha sukses dan sekaligus politisi andal. Olehnya, bagi para pengusaha besar yang ingin mengamankan dan menganak-pinakkan hartanya, maka Donald Ttrump adalah teladan. 


Mereka (bisa) disatukan oleh sebuah ikatan emosional di bawah satu prinsip, yaitu 'pengusaha tidak membutuhkan politisi lagi untuk mengerjakan urusan harta mereka di jantung kekuasaan, pengusahalah yang harus memegang kendali dan melakukannya sendiri di dalam sana'. Sebuah prinsip yang lebih tinggi dari gema teriakan 'tidak ada pajak tanpa perwakilan' pada paruh abad ke-18 yang menandai babak baru Amerika Serikat dahulu.


Sepak terjang beliau ketika menapaki puncak kepemimpinan di negara nomor satu dunia ini, mempertegas klaim saya, itu karena beliau membuktikannya dalam serangkaian tindakan yang membuat pencapaian-pencapaian besar. Hal-hal yang dibuatnya itu bahkan tidak pernah berani dibayangkan oleh para pendahulunya.


Bicara soal Negara Amerika Serikat berarti kita akan banyak berbicara soal kebijakan luar negerinya. Donald Trump adalah orang yang sangat lihai menari di antara 'ideologi-ideologi' besar yang tersebar di berbagai negara di belahan dunia ini.


Mari kita mulai dari 'sisi kiri'. Langsung atau tidak, beliau berperan dalam kudeta presiden populis Evo morales di Bolivia, percobaan kudeta terhadap Nicolas maduro di Venezuela, dan memaksa Kuba tetap merangkak dengan lambat antara hidup dan mati. Satu lagi, beliau berhasil menjaga Amerika Serikat tetap berdiri gagah di hadapan Cina, Korea utara, dan Rusia.


Di 'sisi kanan', prestasi paling gemilang yang ditorehkannya adalah bahwa beliau berhasil 'mendamaikan' negara-negara Arab dengan musuh bebuyutannya, Israel. Di sana ada Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan sangat besar kemungkinan Kerajaan Arab Saudi akan menyusul langkah ini secara formal dan terbuka. 


Beliau menggiring pemimpin-pemimpin bangsa Arab tersebut 'memunggungi' perjuangan bangsa Palestina dan Al-Quds. Capaian satu ini membuat diskusi soal Islamic State of Iraq and Suriah, Arab spring yang menyapu Jazirah, atau geo-politik Timur Tengah yang lain menjadi hambar dan tidak ada apa-apanya untuk dibahas lagi di sini. Mengagumkan bukan?


Di dalam negerinya, ada banyak hal yang begitu membuat saya takjub, tarohlah contoh, saat anda mengatakan dengan penilaian angka misalnya bahwa beliau rasis pada tingkat lima, maka beliau akan mengatakan pada anda bahwa dia rasis pada tingkat 10 (dengan caranya sendiri), dan coba tebak, beliau mendapatkan suara dukungan dari kelompok latin pada pilpres 2020 ini jauh lebih banyak daripada pada tahun 2016. 


Mengagetkan untuk salah satu kelompok yang diidentikkan termarginalisasi oleh 'kerasisan' Donald Trump. Maaf kepada gerakan Antifa seluruh dunia akan kenyataan ini.


Atau contoh yang lain, seperti saat beliau meninggalkan rumah sakit tempatnya di karantina pasca divonis positif covid-19, padahal masa karantina belum berakhir. Dalam sebuah pidato, dengan percaya diri beliau menyampaikan, "saya orang yang kebal terhadap virus ini seumur hidup". 


Adakah pemimpin lain yang bisa melakukan hal seperti itu di luar sana selain beliau? Tidak ada. Dan bahwa ada lonjakan signifikan kasus covid-19 di tengah-tengah mobilisasi kampanye pilpres beliau, itu tidak menjadi urusan baginya. Sungguh sebuah pertunjukkan kekuasaan yang tak terinterupsi.


Saat anda mengatakan kemungkinan beliau tidak peduli terhadap kelestarian alam, maka beliau akan menjawabnya segera dengan membuat keputusan seperti menarik diri dari kesepakatan tentang hal itu (ingat keluarnya Amerika serikat dari kesepakatan iklim Paris?). Baginya climate change dan semacamnya hanya mainan wacana dari para pesaingnya.


Kebijaksanaan yang sama beliau terapkan terkait kesepakatan implementasi perjanjian nuklir (Joint Comprehensive Plan of Action), yang diteken bersama dengan enam negara besar pada 2015 lalu terkait dengan nuklir Iran, yaaaap.. beliau membuat Amerika Serikat keluar dari sana sesantuy seorang yang melenggang sambil menjilati es krim yang dibelinya keluar dari minimarket.


Itu hanya sebagian kecil yang bisa saya tuliskan dari sosok beliau, (dan saya mulai bosan). Mari kita ke topik yang lebih umum, bagaimana beliau mampu melakukan banyak hal seperti yang saya tuliskan di atas?


Kemungkinan jawabannya adalah karena beliau berhasil membuat 'agama interpersonalnya', dan orang yang berhasil melakukan hal ini secara otomatis akan dianugerahi posisi tinggi karena pencapaian mendekati 'nilai tuhan'. Setidaknya begitulah mereka di mata orang lain.


Mengutip Mark Manson dalam bukunya yang berjudul Everything is fucked, setidaknya dibutuhkan enam tahapan yang penting untuk mencipta sebuah 'agama interpersonal'. Pertama, jual harapan pada yang putus asa. Kedua, tentukan 'iman' anda. 


Ketiga, libas lebih dulu semua kritik dan pertanyaan dari luar. Keempat, ketahui cara sederhana merancang ritual pengorbanan. Kelima, janjikan 'surga' antarkan 'neraka'. Keenam dan yang terakhir, maka jadilah nabi demi profit, (Penjelasan lebih lengkap dari keenam poin di atas bisa anda cari sendiri).


Inilah mengapa keberhasilan 'Agama interpersonal' mensyaratkan sebuah simbiosis mutualisme, di mana disatu sisi ada 'umat atau jamaat' yang disatukan dalam sebuah keterikatan emosional yang sebagian besarnya adalah ikatan pengharapan dan pemujaan kepada personal tertentu di luar dirinya, dan di sisi lainnya ada figur seperti Donald trump yang menjanjikan terwujudnya harapan itu.

 

Pengharapan dan pemujaan seseorang kepada orang lain menjadi kunci di sini. Itulah imannya. Jangan pernah anda mengatakan bahwa itu adalah wujud kelemahan paling menjijikkan dari seorang manusia, jangan. Justru orang-orang yang  menganut 'agama interpersonal' adalah pribadi-pribadi yang tangguh. Kalau tidak percaya, coba lihat seberapa beringasnya mereka bereaksi saat figur yang dituhankannya tersebut diganggu.


Itu sama saja anda mengancam bangunan delusional mereka. Seperti ketika anda merasa cinta mati pada seseorang, di mana semua harapan-harapan indah bersamanya di masa depan sanggup membuat anda tersenyum-senyum sendiri, bahkan sampai anda merasa tidak akan sanggup hidup bila tidak bersamanya, dan lalu semua itu buyar saat datang seseorang berusaha menikung anda. Bagaimana rasanya?


Cinta yang demikian adalah 'agama interpersonal' dalam perwujudan ruang lingkup kecil.


Donald Trump mungkin kalah dan lenyap dari panggung pertunjukan dalam waktu dekat, tapi jangan bersedih, sebab figur-figur seperti beliau ada di mana-mana, pun dengan ummat dan jemaatnya. 


Di negara kita, bahkan di kota tempat anda hidup. Baik itu di dunia politik, dunia hiburan, dunia olahraga dan lain sebagainya. Kita tidak pernah kekurangan stok, selama harapan dan pemujaan kita, kita sandarkan dan persembahkan tidak pada diri kita sendiri tetapi pada mereka.